Industri Kreatif Ternyata Bisa Jadi Ladang Investasi Loh

By | Aidil Akbar Madjid | No Comments

Jakarta – Banyak industri terdampak akibat pandemi COVID-19, salah satunya adalah industri kreatif

Konser musik tidak bisa digelar dan bioskop ditutup membuat pekerja di bidang tersebut terdampak. Namun seperti yang lainnya, mereka itu tetap harus menjalani hidup sehari-hari.

Cara untuk bertahan tentu dengan investasi. Di industri kreatif rupanya kita juga bisa berinvestasi.

Hal itu disampaikan perencana keuangan Aidil Akbar. Di industri musik misalnya, ia mencontohkan pemusik bisa berinvestasi lewat hak cipta lagu.

“Musik bisa di capitalized bukan cuma dari label, tapi juga hak cipta. Hak cipta diperkuat jadi cara bagus untuk pemusik hidup long lasting dari karya-karyanya dia,” ujar Aidil di webinar bertajuk ‘Menciptakan Ladang Investasi dari Industri Kreatif’ yang digelar Kencomm, Kamis (26/8/2021).

Sayangnya untuk bidang musik Aidil mengatakan kalau Indonesia masih terhalang regulasi soal hak cipta dan yang berkaitan dengan itu sehingga belum bisa semaju negara lain.

“Jadi dibutuhkan suatu ekosistem. Tapi kalau belum ada supporting ekosistem yaudah pake yang ada aja. Jangan stop sampai disitu,” lanjutnya. 

Selain musik, Aidil Akbar juga mencontohkan berinvestasi di bidang foto.

“Foto misalnya. Kalau bagus jangan cuma upload di Instagram, tapi buka akun di Shuttershock. Platform itu mengkurasi foto-foto,dan dijual. Jadi nggak harus fotografer profesional, kalian upload di situ bisa jadi duit,” jelas Aidil lagi. 

Disampaikan Aidil, finansial bisa dikawinkan dengan industri apapun, termasuk industri kreatif. Oleh sebab itu, industri kreatif bisa jadi investasi. 
 
“Banyak industri kreatif yang bisa kita bentuk jadi investasi,” tutupnya.

Artikel ini telah tayang di urbanasia.com

https://www.urbanasia.com/industri-kreatif-ternyata-bisa-jadi-ladang-investasi-loh-U40763

Kena Tipu di Aplikasi Kencan Online? Bisa Dibawa ke Jalur Hukum

By | Kei Savourie, Rinto Wardana | No Comments

Jakarta – Saat ini, fenomena kencan online sudah menjadi hal yang biasa dalam dunia percintaan. Bukan sesuatu yang mengejutkan jika seseorang menjalin hubungan hanya melalui gawai saja. Karena sudah banyak jejaring sosial yang mewadahi pertemuan dengan orang baru, bahkan beda negara.

Meskipun demikian, tak jarang terjadi kerugian karena kencan online. Mulai dari penipuan identitas, kebohongan janji menikah sampai masalah keuangan. Sehingga, perlu sekali kewaspadaan apabila mencari pasangan di dunia maya.

Relationship Coach dan Founder Kelascinta.com, Kei Savourie mengingatkan bahwa rasa suka yang timbul terhadap pasangan dunia maya itu hasil imajinasi belaka. Karena belum bertemu dengan orang tersebut, muncul khayalan dari diri sendiri.

“Jatuh cinta sama orang di internet itu khayalan diri sendiri. Kita belum ketemu orangnya, bahkan orangnya belum tentu itu,” ungkap Kei saat webinar Transformation Week Kencomm pada Kamis (19/8/2021).

Sebelum bertemu dengan pasangan secara langsung, jangan sampai memutuskan untuk memulai hubungan yang serius. Misalnya seperti janji menikah, berani meminjamkan uang, memberikan foto atau video asusila. Hal itu sangat berbahaya karena bisa menjadikan bumerang untuk diri sendiri.  

“Apapun yang kamu rasain kalau belum ketemu itu, itu cuma ilusi. Jadi stop jangan membahayakan diri,” lanjut Kei. 

Kalau pun berbeda negara atau pun wilayah juga jangan nekat untuk menemuinya sendirian. Kei menceritakan kasus di mana laki-laki berkenalan dengan perempuan Taiwan. Ia nekat mendatangi negara tersebut untuk bertemu, tetapi sampai di sana pasangannya tak ada kabar. 

Jika ingin mendapatkan pasangan yang baik melalui kencan online, carilah yang latar belakangnya jelas. Jangan sampai kehilangan akal dan logika ketika jatuh cinta dengan pasangan dunia maya.

“Satu sisi hati-hati, tapi juga harus membuka diri supaya tidak kehilangan kesempatan. Tetap pakai logic,” jelas Kei.

Upaya Hukum untuk Penipuan Kencan Online

Ketika sudah terkena penipuan akibat tidak berhati-hati ketika kencan online, maka bisa mengurusnya secara hukum. Namun, Praktisi Hukum Rinto Wardana berpendapat bahwa berurusan dengan perkara hukum bukanlah sesuatu yang mudah.

“Makanya lebih baik kita mengantisipasi diri kita,” ucap Rinto saat webinar Transformation Week Kencomm pada Kamis (19/8/2021).

Contoh kasus yang biasa terjadi berkaitan dengan kencan online ialah pemerasan. Menurut Rinto, pemerasan ini pasti diawali dengan adanya pengiriman foto atau video asusila. 

“Nah si pelaku ini akan menggunakan alat itu sebagai cara untuk melakukan pemerasan, meminta sejumlah uang misalnya dengan ancaman menyebarkan video atau foto itu ke publik,” jelas Rinto.

Pelaku bisa dijerat Undang-Undang ITE Pasal 29 Tentang Pengancaman apabila dengan sengaja atau tanpa hak mengirimkan informasi elektronik berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti ditujukan secara pribadi. 

Selain itu, pelaku yang melakukan penipuan kepada orang seperti memasang identitas palsu hingga menimbulkan kerugian bisa dikenakan hukuman berdasarkan Undang-Undang ITE Pasal 8 Ayat (1). Apabila setiap orang sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong atau menyesatkan seseorang.

“Jika memasang foto orang lain, itu kan informasi yang menyesatkan karena bukan dia senyatanya berinteraksi dengan kita di kolom komentar atau interaksi lain di media sosial,” tutur Rinto. “Kalau dia punya itikad buruk, pasti dia melakukan rangkaian kebohongan, rangkaian rayuan kepada si calon korban,” lanjutnya.

Karena pelaku tersebut terlihat meyakinkan di media sosial, akhirnya korban terbuai rayuannya hingga dijanjikan untuk menikah. Putusan Mahkamah Agung Nomor 3277 K/Pdt/2000 melindungi korban yang janji pernikahannya tidak dipenuhi pasangan.

“Dinyatakan tidak dipenuhinya janji menikah adalah pelanggaran terhadap norma kesusilaan dan kepatutan dalam masyarakat, dan perbuatan demikian adalah perbuatan melawan hukum. Nah, saya berbagi ini untuk teman-teman yang ketemu cowok suka ghosting,” jelas Rinto.

Artikel ini telah tayang di urbanasia.com

https://www.urbanasia.com/kena-tipu-di-aplikasi-kencan-online-bisa-dibawa-ke-jalur-hukum-U40115

Tantangan Besar Pelaku UMKM: Tentukan Segmentasi dan Target Bisnis

By | Ila Abdulrahman, Wisnu Surendra | No Comments

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Nasional, Kencomm menggelar webinar dengan tema “Pentingnya Segmentasi & Targeting pada Produk UMKM dan Cara Efektif dalam Mengelola Keuangan Bisnis” yang digelar Kamis, 12 Agustus 2021 secara virtual.

Pembicara yang hadir merupakan senior marketer sekaligus pengusaha, Wisnu Surendra dan senior financial planner, Ila Abdulrahman. Keduanya membagikan tips kepada para pelaku UMKM berdasarkan pengalaman masing-masing.

Wisnu memaparkan kondisi UMKM saat ini, dengan rincian sebanyak 85% berada di level mikro, 86% menggunakan modal sendiri, 76% memasarkan produk secara lokal, 70% merupakan produksi rumahan, 61% bergerak di sektor non e-commerce, baru 2% yang berbadan usaha, dan sekitar 3% yang membuat pembukuan keuangan.

“Tantangan paling mendasar yang harus diselesaikan pelaku UMKM adalah menentukan segmentasi dan targeting bisnis,” ujar Wisnu.

Segmentasi harus sesuai dengan produk yang dijual untuk memaksimalkan omzet. Terdapat tiga unsur segmentasi yang harus ditentukan, meliputi demografis, geografis, dan psikografis.

Sedangkan dalam targeting perlu dijabarkan secara detail. Seperti menargetkan konsumen lokal atau regional, memanfaatkan digital atau konvensional, kategori umum atau spesifik, dan untuk dipakai individu atau kelompok.

“Paling pertama kita harus percaya diri dalam membidik konsumen, kedua memperluas jangkauan, dan ketiga yang paling penting yaitu go digital,” pesan Wisnu untuk pelaku UMKM.

Menyambung pemaparan Wisnu, Ila melengkapi dengan menjelaskan pentingnya mengelola keuangan bisnis.

“Jika pengelolaan keuangannya yang buruk, omzet bisnis bisa masuk ke pemasukan pribadi. Hal ini yang membuat bisnis tidak bertahan lama,” terang Ila.

Menurut Ila, tips mengelola keuangan bisnis meliputi pemisahan keuangan pribadi dengan keuangan bisnis, membuat pembukuan keuangan, memperhitungkan risiko dalam usaha, dan menyiapkan dana pengembangan. 

“Untuk tips menjaga keuangan bisnis itu pisahkan keuangan bisnis dan pribadi, harus dipahami omzet bukan uangmu, miliki dana darurat dan investasi, serta hindari modal dari berhutang,” tutupnya.

Artikel ini telah tayang di urbanasia.com

https://www.urbanasia.com/tantangan-besar-pelaku-umkm-tentukan-segmentasi-dan-target-bisnis-U39507

Cinta Bukan Segalanya: Kiat Hindari Fantasi Pernikahan Disney

By | Bareyn Mochaddin, Lex dePraxis | No Comments

Sebelum menikah, pasangan harus mempertimbangkan kesiapan finansial, emosional, dan mental agar tidak terjebak dalam ‘fantasi’ pernikahan ala Disney.

Influencer ‘pernikahan’ sering mempromosikan hidup setelah menikah di usia muda adalah surga untuk berdua. Status suami dan istri menjadi cap absolut untuk hidup bahagia selamanya, seperti yang ditawarkan kisah-kisah romantis Disney. Namun, realitas pernikahan tidak semudah hidup 24/7 dalam bulan madu karena ada isu finansial hingga kerja keras agar kehidupan rumah tangga terus berjalan. 

Lex dePraxis, pendiri Kelas Cinta untuk konsultasi hubungan mengatakan, pasangan tidak perlu terburu-buru menikah. Selain itu, agar seseorang tidak terjebak dalam ‘fantasi’ pernikahan tersebut, maka harus mempertimbangkan kesiapan emosional sebelum menikah dari semua pihak. 

“Sebelum menikah gunakan waktu untuk mengenal pasangan. Umumnya karena cepat ingin menikah dan tidak terlalu mengenal pasangan akan bercerai. Siklus yang sama akan berulang jika landasannya hanya ingin cepat menikah,” ujar Lex dalam diskusi daring “Nikah Dulu atau Mapan Dulu” yang dilaksanakan perusahaan manajemen profesional speakers, Kencomm Indonesia (7/8).

Ia mengatakan, masa pacaran adalah waktu yang tepat menentukan prioritas atau tujuan setelah hidup bersama. Selain itu, untuk memikirkan apa saja konsekuensi menikah terburu-buru

Jangan sampai memutuskan menikah dengan sembarang orang hanya karena ingin menikah saja. Jika seseorang merasa belum nyaman atau meragukan bisa masuk ke tahap selanjutnya bersama pasangan, baiknya untuk tidak menikah walaupun telah bersama bertahun-tahun, ujarnya. 

“Orang yang tinggal serumah bisa banyak pertengkaran karena melihat keburukan dan kejelekannya apa. Ini yang perlu dipahami sebelum menikah. Coba kenali sifat buruk pasangan. Kedua, kenali sisi buruk diri sendiri agar bisa kuat dengan pasangan,” kata Lex. 

Selain itu, ia menambahkan, pasangan harus memikirkan dengan matang apakah hal-hal yang ingin dicapainya, seperti lanjut bersekolah bisa dikejar setelah menikah. Pertimbangan tersebut menjadi satu hal yang penting karena hidup rumah tangga menawarkan tantangan baru dan menguras energi, mental, dan sisi emosional. 

“Kalau terburu-buru tanpa manajemen emosi dan persiapan matang, biasanya tidak happily ever after. Menikah itu berisiko,banyak juga yang tidak berakhir bahagia. Bedakan hasrat ingin menikah dan kematangan siap menikah,” ujarnya.

Beban Finansial Milik Berdua

Bareyn Mochaddin, perencana keuangan independen mengatakan, selain kesiapan emosional antarpasangan, sisi finansial menjadi satu aspek yang tidak boleh luput ketika mempertimbangkan pernikahan. Seseorang dapat dikatakan siap menikah jika telah mandiri secara finansial atau secara ekonomi tidak lagi bergantung kepada orang lain. Selain itu, mampu membiayai dirinya sendiri. 

Ia menambahkan, hal lain yang harus dipertimbangkan sebelum masuk ke jenjang pernikahan adalah kemampuan seseorang mengelola keuangan. Aspek seperti apakah pengeluaran lebih kecil daripada penghasilannya atau adakah uang yang disisihkan untuk ditabung menjadi krusial. Jika belum memenuhi syarat tersebut, ide untuk menikah sebaiknya ditunda saja. 

“Orang yang siap menikah juga harus cakap mengelola emosi finansial. Dia tahu mana yang menjadi prioritas, mampu bersabar untuk tidak mengutang dan bersabar jika belum memiliki uang (jika ingin membeli sesuatu,” ujar Bareyn. 

Bareyn menekankan, pasangan harus saling memastikan keduanya siap secara finansial dan harus transparan soal isu keuangan. Jangan sampai ketika sudah menikah salah satu dari pasangan baru terbuka tentang utang yang dimilikinya. Hal itu akan menimbulkan masalah besar dalam sebuah relasi.

“Harus terbuka, apakah ada tagihan kartu kredit, utangnya besar atau kecil. Selain itu, bagaimana dengan cash flow apakah berimbang dan apakah pasangan memiliki tanggungan (keluarga yang dibiayai) karena tidak sedikit pasangan yang kecewa saat tahu pasangan menyokong orang lain,” jelasnya. 

Ketika kedua pasangan telah transparan tentang situasi finansial, kata Bareyn, penganggaran untuk biaya pernikahan juga harus jelas. Banyak pasangan yang ingin memiliki pernikahan mewah karena hari istimewa, tapi dari segi finansial kantong mereka tidak mencukupi. Untuk menyelesaikan masalah itu, pasangan harus siap melakukan pengorbanan agar saat membangun rumah tangga masih memiliki dana simpanan. 

“Misalnya memotong baya dekorasi bunga, tidak perlu membuat baju bride’s maid, tidak ada foto pre-wedding. Jangan mengandalkan angpao hadiah pernikahan karena biasanya tidak setimpal dengan pengeluaran,” ujarnya. 

Upaya untuk berhemat dan memiliki dana simpanan menjadi krusial ketika pasangan menikah ingin memiliki anak. Biaya pengeluaran untuk bayi hingga sekolah anak tidak kecil. Karenanya, penganggaran sejak dini juga dibutuhkan, tandasnya. 

“Harus mempertimbangkan biaya anak yang terus bertambah. Selain itu, beban finansial juga bisa dibagi dua jika pendapatan lebih dari satu. Misalnya, laki-laki yang membayar tagihan listrik, sementara perempuan mengeluarkan untuk hiburan, seperti makan di luar, Netflix, dan sebagainya,” kata Bareyn.  

Resep Langgeng, Perbaiki Kesalahan untuk Pasangan

Lex mengatakan, agar hubungan bisa langgeng atau membangun rasa percaya, pasangan harus siap memperbaiki kesalahan yang dilakukan dan membalasnya dengan aksi positif. Misalnya, pasangan melupakan janji temu atau terlambat, maka harus meminta maaf dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hati, seperti bercanda, membuka diri, dan makan bersama. 

Hal seperti itu juga dapat dilakukan setelah menikah. Tetapi butuh usaha yang lebih keras dan niat untuk menyiapkan waktu karena hidup setelah menikah dapat bicara 20 menit menjadi hal langka. Terlebih lagi jika sudah memiliki anak, durasi waktu untuk bersama semakin menipis. Maka dari itu, menyisihkan waktu dan bersama-sama melakukan hal positif sebagai hadiah untuk satu sama lain harus diusahakan, ujarnya. 

“Laki-laki dan perempuan sama-sama berupaya untuk berkembang menjadi yang baik. Belajar bersama tentang komunikasi, tanggung jawab, keterampilan, dan pemberdayaan. Bisa coba juga dengan masa evaluasi, jika enam bulan pertama masih belum ada perubahan, putuskan saja,” jelas Lex. 

Ia menambahkan, situasi tentu jauh berbeda jika kesalahan yang dilakukan pasangan adalah kekerasan fisik, psikis, maupun verbal. Kekerasan tidak dapat diperbaiki atau ditebus dengan melakukan hal positif kepada pasangan. 

“Untuk situasi seperti itu pasangan yang harus berubah. Misalnya, dia dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk karena teman atau lingkungannya. Dia harus memiliki niat untuk berubah dan meninggalkan lingkungan karena kesalahannya tidak bisa selesai hanya dengan ditebus minta maaf,” ujarnya. 

Artikel ini telah tayang di magdalene.co, 6 Agustus 2021

https://magdalene.co/story/cinta-bukan-segalanya-sebuah-kiat-hindari-fantasi-pernikahan-disney