Lex dePraxis

Cinta Bukan Segalanya: Kiat Hindari Fantasi Pernikahan Disney

By | Bareyn Mochaddin, Lex dePraxis | No Comments

Sebelum menikah, pasangan harus mempertimbangkan kesiapan finansial, emosional, dan mental agar tidak terjebak dalam ‘fantasi’ pernikahan ala Disney.

Influencer ‘pernikahan’ sering mempromosikan hidup setelah menikah di usia muda adalah surga untuk berdua. Status suami dan istri menjadi cap absolut untuk hidup bahagia selamanya, seperti yang ditawarkan kisah-kisah romantis Disney. Namun, realitas pernikahan tidak semudah hidup 24/7 dalam bulan madu karena ada isu finansial hingga kerja keras agar kehidupan rumah tangga terus berjalan. 

Lex dePraxis, pendiri Kelas Cinta untuk konsultasi hubungan mengatakan, pasangan tidak perlu terburu-buru menikah. Selain itu, agar seseorang tidak terjebak dalam ‘fantasi’ pernikahan tersebut, maka harus mempertimbangkan kesiapan emosional sebelum menikah dari semua pihak. 

“Sebelum menikah gunakan waktu untuk mengenal pasangan. Umumnya karena cepat ingin menikah dan tidak terlalu mengenal pasangan akan bercerai. Siklus yang sama akan berulang jika landasannya hanya ingin cepat menikah,” ujar Lex dalam diskusi daring “Nikah Dulu atau Mapan Dulu” yang dilaksanakan perusahaan manajemen profesional speakers, Kencomm Indonesia (7/8).

Ia mengatakan, masa pacaran adalah waktu yang tepat menentukan prioritas atau tujuan setelah hidup bersama. Selain itu, untuk memikirkan apa saja konsekuensi menikah terburu-buru

Jangan sampai memutuskan menikah dengan sembarang orang hanya karena ingin menikah saja. Jika seseorang merasa belum nyaman atau meragukan bisa masuk ke tahap selanjutnya bersama pasangan, baiknya untuk tidak menikah walaupun telah bersama bertahun-tahun, ujarnya. 

“Orang yang tinggal serumah bisa banyak pertengkaran karena melihat keburukan dan kejelekannya apa. Ini yang perlu dipahami sebelum menikah. Coba kenali sifat buruk pasangan. Kedua, kenali sisi buruk diri sendiri agar bisa kuat dengan pasangan,” kata Lex. 

Selain itu, ia menambahkan, pasangan harus memikirkan dengan matang apakah hal-hal yang ingin dicapainya, seperti lanjut bersekolah bisa dikejar setelah menikah. Pertimbangan tersebut menjadi satu hal yang penting karena hidup rumah tangga menawarkan tantangan baru dan menguras energi, mental, dan sisi emosional. 

“Kalau terburu-buru tanpa manajemen emosi dan persiapan matang, biasanya tidak happily ever after. Menikah itu berisiko,banyak juga yang tidak berakhir bahagia. Bedakan hasrat ingin menikah dan kematangan siap menikah,” ujarnya.

Beban Finansial Milik Berdua

Bareyn Mochaddin, perencana keuangan independen mengatakan, selain kesiapan emosional antarpasangan, sisi finansial menjadi satu aspek yang tidak boleh luput ketika mempertimbangkan pernikahan. Seseorang dapat dikatakan siap menikah jika telah mandiri secara finansial atau secara ekonomi tidak lagi bergantung kepada orang lain. Selain itu, mampu membiayai dirinya sendiri. 

Ia menambahkan, hal lain yang harus dipertimbangkan sebelum masuk ke jenjang pernikahan adalah kemampuan seseorang mengelola keuangan. Aspek seperti apakah pengeluaran lebih kecil daripada penghasilannya atau adakah uang yang disisihkan untuk ditabung menjadi krusial. Jika belum memenuhi syarat tersebut, ide untuk menikah sebaiknya ditunda saja. 

“Orang yang siap menikah juga harus cakap mengelola emosi finansial. Dia tahu mana yang menjadi prioritas, mampu bersabar untuk tidak mengutang dan bersabar jika belum memiliki uang (jika ingin membeli sesuatu,” ujar Bareyn. 

Bareyn menekankan, pasangan harus saling memastikan keduanya siap secara finansial dan harus transparan soal isu keuangan. Jangan sampai ketika sudah menikah salah satu dari pasangan baru terbuka tentang utang yang dimilikinya. Hal itu akan menimbulkan masalah besar dalam sebuah relasi.

“Harus terbuka, apakah ada tagihan kartu kredit, utangnya besar atau kecil. Selain itu, bagaimana dengan cash flow apakah berimbang dan apakah pasangan memiliki tanggungan (keluarga yang dibiayai) karena tidak sedikit pasangan yang kecewa saat tahu pasangan menyokong orang lain,” jelasnya. 

Ketika kedua pasangan telah transparan tentang situasi finansial, kata Bareyn, penganggaran untuk biaya pernikahan juga harus jelas. Banyak pasangan yang ingin memiliki pernikahan mewah karena hari istimewa, tapi dari segi finansial kantong mereka tidak mencukupi. Untuk menyelesaikan masalah itu, pasangan harus siap melakukan pengorbanan agar saat membangun rumah tangga masih memiliki dana simpanan. 

“Misalnya memotong baya dekorasi bunga, tidak perlu membuat baju bride’s maid, tidak ada foto pre-wedding. Jangan mengandalkan angpao hadiah pernikahan karena biasanya tidak setimpal dengan pengeluaran,” ujarnya. 

Upaya untuk berhemat dan memiliki dana simpanan menjadi krusial ketika pasangan menikah ingin memiliki anak. Biaya pengeluaran untuk bayi hingga sekolah anak tidak kecil. Karenanya, penganggaran sejak dini juga dibutuhkan, tandasnya. 

“Harus mempertimbangkan biaya anak yang terus bertambah. Selain itu, beban finansial juga bisa dibagi dua jika pendapatan lebih dari satu. Misalnya, laki-laki yang membayar tagihan listrik, sementara perempuan mengeluarkan untuk hiburan, seperti makan di luar, Netflix, dan sebagainya,” kata Bareyn.  

Resep Langgeng, Perbaiki Kesalahan untuk Pasangan

Lex mengatakan, agar hubungan bisa langgeng atau membangun rasa percaya, pasangan harus siap memperbaiki kesalahan yang dilakukan dan membalasnya dengan aksi positif. Misalnya, pasangan melupakan janji temu atau terlambat, maka harus meminta maaf dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hati, seperti bercanda, membuka diri, dan makan bersama. 

Hal seperti itu juga dapat dilakukan setelah menikah. Tetapi butuh usaha yang lebih keras dan niat untuk menyiapkan waktu karena hidup setelah menikah dapat bicara 20 menit menjadi hal langka. Terlebih lagi jika sudah memiliki anak, durasi waktu untuk bersama semakin menipis. Maka dari itu, menyisihkan waktu dan bersama-sama melakukan hal positif sebagai hadiah untuk satu sama lain harus diusahakan, ujarnya. 

“Laki-laki dan perempuan sama-sama berupaya untuk berkembang menjadi yang baik. Belajar bersama tentang komunikasi, tanggung jawab, keterampilan, dan pemberdayaan. Bisa coba juga dengan masa evaluasi, jika enam bulan pertama masih belum ada perubahan, putuskan saja,” jelas Lex. 

Ia menambahkan, situasi tentu jauh berbeda jika kesalahan yang dilakukan pasangan adalah kekerasan fisik, psikis, maupun verbal. Kekerasan tidak dapat diperbaiki atau ditebus dengan melakukan hal positif kepada pasangan. 

“Untuk situasi seperti itu pasangan yang harus berubah. Misalnya, dia dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk karena teman atau lingkungannya. Dia harus memiliki niat untuk berubah dan meninggalkan lingkungan karena kesalahannya tidak bisa selesai hanya dengan ditebus minta maaf,” ujarnya. 

Artikel ini telah tayang di magdalene.co, 6 Agustus 2021

https://magdalene.co/story/cinta-bukan-segalanya-sebuah-kiat-hindari-fantasi-pernikahan-disney

Nikah Dulu Atau Mapan Dulu, Ini Saran Pakar Hubungan!

By | Lex dePraxis | No Comments

Banyak orang punya rencana menikah, tetapi apakah Anda sudah siap? Selain punya calon dan niat, kesiapan adalah pertanyaan selanjutnya yang harus Anda tanyakan kepada diri sendiri dan pasangan saat akan menikah. Jadi, nikah dulu atau mapan dulu nih baiknya? Ini saran pakar!

Dalam sebuah webinar, Lex dePraxis, seorang relationship coach menganjurkan agar Anda punya persiapan matang sebelum menikah. Selain persiapan finansial sebelum menikah, pastikan Anda dan pasangan mapan secara emosional, punya keberdayaan diri, dan sama-sama punya kematangan. “Rumah tangga itu bukan tempat istirahat, tetapi ‘pekerjaan seumur hidup’, Anda berdua harus bekerja keras untuk bisa menjalani dan menjaga kelanggengan rumah tangga.” Maka sebelum menikah, coba lakukan 3 persiapan ini.

1.       Tentukan Prioritas

Anda harus jujur dan bertanya pada diri sendiri dan pasangan, ingin menikah atau siap menikah? Jangan menikah hanya karena keinginan tanpa kesiapan. Apa yang ingin Anda capai dalam hidup dan apa yang tujuan yang ingin Anda capai dalam suatu hubungan, carilah pasangan yang kompatibel yang punya prioritas, nilai, dan tujuan yang sama.

2.       Sama-sama berkembang jadi baik sebelum berkembang biak

“Anda dan pasangan harus sama-sama berkembang baik sebelum berkembang biak,” kata Coach Lex sambil tertawa. Berkembang baik di bidang apa?

  • Punya tanggung jawab

karena menikah adalah tanggung jawab bersama, Anda dan pasangan harus bisa bertanggung jawab atas diri sendiri dan siap bertanggung jawab akan keluarga yang akan dibina.

  • Punya pekerjaan

Ini bukan yang utama, tetapi salah satu atau Anda berdua juga perlu memiliki pekerjaan. Realtistis saja, pernikahan dan berumah tangga kan butuh biaya, bila Anda dan calon suami tidak punya pekerjaan, tidak punya pendapatan tetap, bagaimana bisa menghidupi kehidupan pernikahan nanti? Biaya untuk Anda berdua dan biaya bila ingin punya anak nanti, sudah harus dipikirkan sdan direncanakan ejak awal.

  • Punya kesiapan mental

Apakah Anda dan pasangan sudah sama-sama siap secara mental? Sudah sama-sama dewasa dalam sikap dan pemikiran untuk menikah, bukan hanya lewat perkataan atau janji-janji, tetapi lewat perbuatan dan tindakan nyata.

3.       Berlakukan masa evaluasi

Anda dan pasangan harus kenal satu sama lain, maka tentu ini butuh proses dan waktu. Kenali buruk-buruknya diri sendiri dan kenali buruk-buruknya pasangan, kemudian bisakah Anda berdua mengatasi dan menerima masing-masing, sisi baik maupun buruknya?

“Coba jalani masa pacaran, lihat dan masuk masa evaluasi selama 6-12 bulan, apakah Anda berdua bisa berkembang jadi lebih baik bersama? Bila tidak, lebih baik putuskan hubungan, lakukan cut loss, daripada diteruskan dan Anda terjebak ‘investasi bodong’ yang merugikan kedua belah pihak.” terang coach Lex.

Artikel ini telah tayang di womantalk.com, 6 Agustus 2021

https://womantalk.com/love/articles/nikah-dulu-atau-mapan-dulu-ini-saran-pakar-hubungan-xqvRQ

Kamu Tim Nikah Dulu atau Mapan Dulu? Cek Masukan dari Konsultan Berikut, Yuk

By | Lex dePraxis | No Comments

Jakarta – 

Jadi, kamu yang mana nih, Beauties? Nikah dulu, karena menganggap mapan pun akan mengikuti atau tim yang merasa perlu mapan dulu baru berani untuk nikah?

Apapun pilihanmu itu, tentu berdasarkan pada pertimbangan masing-masing, ya. Namun mana, sih yang lebih baik?

“Dua-duanya, baik-baik saja, tetapi masing-masing dari pilihan itu ada konsekuensinya. Jadi teman-teman sebaiknya pikirkan dulu, nih, tujuan menikah itu seperti apa dan kebayangnya nikah tuh ngapain aja?,” ujar Relationship Coach Lex dePraxis, dalam webinar series: Transformation Week. Yes, You Can Change Your Life!, yang diadakan Kencomm Indonesia, Kamis (6/8).

Ia menambahkan, karena kebanyakan nikah itu digambarkannya hidup yang happily ever after di film. Tetapi realitanya nggak melulu demikian. Bahkan nggak jarang setelah menikah, malah banyak keluarga yang justru tidak berkecukupan alias jauh dari kata sejahtera.

Selain itu, kebanyakan orang berpikir: nanti setelah menikah, gampanglah ya mencari uang.. Terkait ini, Lex dePraxis mengungkap, memang bisa, dengan catatan pasangan tersebut benar-benar pintar mengelola waktu, emosi, keuangan, juga pembagian tugas di rumah.

Dengan begitu harapan untuk punya bisnis sendiri, sekolah lagi, maupun melipatgandakan uang bisa saja terjadi. Untuk itu, menurutnya, sah-sah saja bila seseorang ingin menikah dulu sebelum mapan. Terlebih yang perlu kamu ketahui, Beauties, definisi mapan pun bisa berbeda pada tiap orang.

“Ada orang yang bilang mapan itu kalau sudah pekerjaan. Ada yang bilang mapan kala sudah punya rumah sendiri, lalu sudah punya dana pensiun, dan sebagainya. Jadi, ukuran mapan memang bisa berbeda. Namun yang terpenting adalah: yang mana yang kita mau pegang? Jangan sampai, ‘saya nggak tahu saya mapan atau enggak, saya kan nggak pernah menghitung.. yang penting saya nikah aja, dulu.’ Nah, itu yang berisiko,” jelasnya.

Ini lebih karena tekanan ingin buru-buru menikah dan berpikir nanti setelah menikah, uang akan mengikuti. Lagi-lagi kembali ke atas Beauties, bagi beberapa orang hal ini bisa. Atau juga ada faktor dari keluarga yang berkecukupan.

“Tapi bagi yang datang dari keluarga yang biasa-biasa saja, atau hanya satu orang yang bekerja kantoran, nah ini bisa sangat menantang dan menurut penelitian, hal ini tak jarang menuju ke arah perceraian,” katanya.

Bedakan Antara Ingin Nikah dan Siap Nikah

Menurut Lex ada perbedaan antara ingin nikah atau siap nikah, Beauties. Siap nikah itu sendiri berarti soal kematangan diri sendiri dan pasangan. Di antaranya bila kamu berdua berdaya seperti sudah bekerja sehingga berpenghasilan.

Lalu juga kondisi dirimu dan pasangan secara emosional. Apakah kalian sudah saling menghormati dan menghargai? Sebagai bahan renungan: bila saat pacaran kalian sudah sering terlibat dalam kekerasan, tak menutup kemungkinan hal itu masih akan berlanjut setelah menikah nanti.

Artikel ini telah tayang di beautynesia.com, 7 Agustus 2021

https://www.beautynesia.id/berita-others/kamu-tim-nikah-dulu-atau-mapan-dulu-cek-masukan-dari-konsultan-berikut-yuk/b-235388