Ronald Sipahutar

Tips Menjaga Produktivitas Karyawan saat Bisnis Terdampak Pandemi

By | Ronald Sipahutar | No Comments

Jakarta – Pandemi COVID-19 yang melanda hampir seluruh dunia telah menjadi pukulan telak buat para pelaku bisnis. Mau tidak mau, para pelaku bisnis mesti mengubah strategi bisnisnya, hingga melakukan perubahan besar-besaran pada perusahaannya.

Tak sedikit perusahaan yang terpaksa mengurangi gaji karyawan, merampingkan bisnis, menutup beberapa kantor cabang, merumahkan karyawannya, hingga berhenti beroperasi sama sekali.

Kondisi ini tak hanya terjadi pada perusahaan kecil dan menengah, namun juga pada perusahaan kelas kakap.

Perubahan yang terjadi pada perusahaan tentunya berpengaruh juga pada operasional sehari-hari karyawannya. Salah satunya adalah menurunnya produktivitas.

Gimana nggak? Sudah gaji berkurang, kerjaan malah ditambah karena perampingan karyawan. Bonus pun tak dapat diharapkan.

Wajarlah kalau karyawan jadi kurang termotivasi untuk bekerja. Menghadapi hal ini, Operational Business Coach, Ronald Sipahutar, punya beberapa tips buat meningkatkan produktivitas karyawan dalam bekerja.

1. Manfaatkan Teknologi untuk Berkomunikasi

1606273787-tipe-orang-di-medsos.jpg

Sumber: Ilustrasi tipe orang di medsos. (Freepik)

Kebanyakan perusahaan masih memberlakukan sistem bekerja dari rumah (WFH) dan bekerja dari kantor (WFO) secara bergantian. Karena itu, dinamika dalam bekerja pun berubah, karena perubahan cara kerja. Tak jarang hal ini menimbulkan miskomunikasi antarkaryawan.

Namun, dengan berbagai teknologi komunikasi yang ada, manfaatkan media komunikasi sebaik-baiknya untuk meminimalisasi miskomunikasi. Selain itu, rutin menyapa rekan kerja dapat membuat tim tetap bersemangat meski menghadapi masa sulit.

2. Merespons dengan Baik

1603202691-karyawan-baru3.jpg

Sumber: Ilustrasi karyawan baru. (Freepik)

Jika kamu sebagai atasan, usahakan untuk selalu merespons apa yang menjadi keluh kesah, curhatan, maupun komentar dari anggota timmu. Respons yang kamu berikan menunjukkan empati, dukungan, dan juga perhatian pada mereka. 

Beri kesempatan pada setiap orang untuk curhat lalu berikan solusi yang tepat. Dengarkan curhat mereka, mencoba mengerti, dan sebisa mungkin membantu mencarikan solusinya. Dan yang terpenting, jangan buru-buru nge-judge apa yang mereka sampaikan.

3. Komunikasikan Kemampuan Perusahaan

1612524052-portrait-young-businessman-with-graph-office-23-2147839896.jpg

Sumber: Ilustrasi bisnis. (Freepik)

Mungkin karyawan akan mengharapkan sebuah solusi yang besar seperti kenaikan gaji, penambahan personel, atau bonus. Sementara, di sisi lain, perusahaan lagi berjuang untuk bisa bertahan hidup. 

Dalam situasi ini, penting buat atasan tetap memperhatikan keinginan karyawan, namun mengomunikasikan dengan jujur kemampuan dan situasi perusahaan saat ini. Dengan begitu, harapannya karyawan bisa memahami bahwa kita sama-sama ada pada situasi yang sulit.

Artikel ini telah tayang di www.urbanasia.com

https://www.urbanasia.com/tips-menjaga-produktivitas-karyawan-saat-bisnis-terdampak-pandemi-U30028

5 Tips Menghadapi Rekan Kerja yang Baperan

By | Ronald Sipahutar, Uncategorized | No Comments

Jakarta – Bekerja dalam tim memang butuh kerja sama yang solid. Selain melakukan tugas dan peran yang dipercayakan pada kita, tak jarang kita mesti menghadapi masalah di luar pekerjaan yang tampak sepele, namun cukup mengganggu. Apa itu? Ya, rekan kerja yang baperan.

Kalau ngomongin bisnis, baper adalah hal pertama yang mesti dibuang, guys. Kalau dalam bekerja masih sensi atau gampang pake emosi, berarti kamu belum benar-benar bersikap profesional.

Memiliki rekan kerja yang sensi, baper, ngambekan, atau gampang tersinggung, bakal menghambat kita menyelesaikan pekerjaan. Apalagi kalau kamu dan dia ada dalam satu rangkaian flow pekerjaan. Inginnya pekerjaan cepat selesai, tapi terkendala rekan kerja yang lagi ngambek. Alhasil, kamu sendiri yang kelabakan dikejar deadline.

Lantas, gimana dong cara menghadapinya?

Operational Business Coach, Ronald Sipahutar, punya beberapa tips nih buat kamu yang mesti menghadapi rekan kerja baperan.

1. Lakukan Pendekatan Personal

1616740170-minta-maaf---freepik-katemangostar.jpg

Sumber: Ilustrasi minta maaf. (freepik/katemangostar)

Rekan kerja yang selalu pakai perasaan saat bekerja, perlu didekati secara personal. Bukan untuk mengambil hatinya, ya? Setidaknya agar urusan pekerjaan bisa berjalan lancar tanpa kendala.

Karena itu, asah kemampuan interpersonal kamu untuk bisa membuka pembicaraan dua arah dengannya. Kamu bisa coba bertanya apa yang terjadi atau masalah apa yang lagi mengganggu pikirannya sehingga sikapnya kurang bersahabat. Dengarkan keluh kesahnya agar dia merasa dimengerti.

2. Selalu Buka Komunikasi

1610606478-kumpul-dengan-teman.jpg

Sumber: Ilustrasi kumpul dengan teman. (Freepik)

Penting buat kamu untuk selalu membuka jalur komunikasi pada si baperan ini, guys. Nggak cuma saat kamu butuh bantuan dia aja, tapi juga saat kamu nggak perlu bantuan apa-apa dari dia.

Bersikap ramah dan hangat padanya akan membuat dia merasa bahwa kamu bukanlah ancaman buat dia. Selain itu, menjalin komunikasi yang terbuka akan menghilangkan rasa sungkan saat kamu mesti menghadapi hal-hal yang nggak penting tadi, misalnya ngambek.

3. Temui Secara Langsung

1603772371-pesan-buat-teman-sedih5.jpg

Sumber: Support teman. (Freepik)

Saat dia lagi badmood dan kamu mesti menyelesaikan pekerjaan dengan segera, jangan terpengaruh dengan moodnya, guys. Temui dia secara langsung dan katakan baik-baik bahwa kamu perlu menyelesaikan pekerjaan ini.

Untuk bisa menyelesaikannya, kamu butuh bantuan dia. Jika perlu, janjikan waktu untuk curhat-curhatan sesudah pekerjaan ini selesai, kalau dia butuh untuk menyalurkan emosinya. Sebaiknya kamu tidak menggunakan media seperti chat atau email saat dia sedang nggak enak hati.

4. Jangan Terpancing Emosi

1598932106-jaga-jarak-emosi.jpg

Sumber: Ilustrasi teman kantor (Freepik)

Kamu mungkin akan mendapatkan respons yang tidak mengenakkan dari si sensi dan baper ini. Wajar dong kalau hati ikut panas? Tapi, sebaiknya jangan sampai terpancing emosi, guys. Kalau dia bersikap tidak ramah, ketus, atau bahkan marah, sebisa mungkin tidak mengimbanginya dengan emosi yang sama.

Sebaliknya, lakukan pendekatan yang soft dengan bilang, “Kayaknya kamu lagi sensi deh, ada nggak yang aku bisa bantu?” atau “Sori kalau dianggap ikut campur, tapi ada kerjaanmu yang belum selesai, jadi aku juga nggak bisa menyelesaikan kerjaanku.”

5. Laporkan pada Atasan

1606268250-bijak-emosi.jpg

Sumber: Ilustrasi teman kantor (Freepik)

Nah, kalau kamu sudah coba beberapa hal tadi tapi tetap buntu, saatnyalah kamu eskalasikan masalah ini ke atasan. Sampaikan apa yang terjadi dan mintalah solusi dari atasan. Paling tidak, atasan tahu apa yang membuat pekerjaanmu tidak bisa selesai tepat waktu. 

Artikel ini telah tayang di www.urbanasia.com

https://www.urbanasia.com/5-tips-menghadapi-rekan-kerja-yang-baperan-U30012

5 Langkah Agar Bisnis Berjalan Autopilot

By | Ronald Sipahutar | No Comments

Jakarta – Buat kamu para pebisnis atau leader muda, perusahaan yang running dengan sendirinya pastinya jadi impian. Pasalnya, bisnis yang bisa berjalan tanpa kamu harus banyak berkecimpung dalam operasional sehari-harinya, bisa bikin pekerjaanmu jauh lebih ringan. Lantas, gimana sih caranya agar bisnis bisa berjalan autopilot, namun tetap mencapai tujuan yang dikehendaki?

Menurut Operational Business Coach, Ronald Sipahutar, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah membangun mindset yang benar tentang autopilot. Umumnya, autopilot sering diartikan dengan bisnis yang bisa ditinggalkan sementara leader atau ownernya bisa bebas jalan-jalan. Nah, pemahaman ini kurang tepat, guys.

Sebenarnya, untuk membuat bisnis berjalan secara otomatis, tetap diperlukan planning, action plan, lalu merealisasikan pekerjaan, mengevaluasi, monitor, melakukan review dan improve terus menerus.

“Autopilot tidak berarti perusahaan bisa ditinggalkan begitu saja dan ownernya bisa jalan-jalan, tahu-tahu uang datang,” papar Ronald dalam webinar ‘Bangun Bisnis Jadi Autopilot’ pada Minggu (18/04/2021).

Sebagai bagian dari rangkaian acara ‘Ngabuburit Ngilmu, Yuk!’, Ronald menjelaskan bahwa autopilot berdasar pada cara kita mengoptimalkan fungsi dan peran karyawan di perusahaan.

“Autopilot adalah gimana caranya kita membuat fungsi dan role di setiap perusahaan bisa berjalan, bekerja sama, dan berkoordinasi secara efektif dengan departemen lain maupun sesama anggota tim, buat bisa deliver maximum value kepada customer,” lanjut Ronald.

Untuk itu, ada beberapa langkah yang mesti dipersiapkan, yaitu:

1. Where to Go

1587130031-Ilustrasi-bisnis.jpg

Sumber: Ilustrasi bisnis (Freepik)

Sebagai owner atau CEO, kamu mesti tentukan dulu tujuan bisnis kamu, guys. Setiap anggota tim harus paham apa yang menjadi tujuan bisnis agar bisa bersama-sama mencapainya.

2. Key Focus

Jangan lupa, kasih tahu apa yang menjadi key focus, agar setiap orang dapat membuat rencana, aktivitas, timeline, mengerjakan pekerjaan, atau membuat deal-deal, untuk mencapai key focus tersebut.

3. Tentukan Ukuran Keberhasilannya

1617198363-bisnis-bareng-pacar.jpg

Sumber: Ilustrasi bisnis bareng pacar. (Freepik/asier_relampagoestudi)

Untuk mengukur kesuksesan kinerja tim, kamu perlu menentukan target yang harus dicapai. Misalnya, kepuasan customer yang meningkat, profit bertambah sekian persen, dan lain-lain. Selain itu, menurut Ronald, perlu juga ditentukan timeline pekerjaan yang akan menunjukkan kapan sebuah proyek dimulai dan kapan mesti diselesaikan.

4. Staffing

Step berikutnya adalah menentukan siapa yang akan menjalankan proyek ini. Departemen apa saja yang akan terlibat dan siapa yang akan melakukannya. Misalnya, untuk penetrasi market, maka key leader-nya adalah marketing.

5. Buat Sistem yang Mendukung

1587130020-Ilustrasi-bisnis-1.jpg

Sumber: Ilustrasi bisnis/rawpixel

Agar bisnis bisa berjalan secara autopilot, maka kamu perlu membangun system yang mendukung semua pekerjaan. Susunlah Standard Operating Procedure (SOP), instruksi dalam melakukan pekerjaan, dan lain-lain. Degan begitu, semua anggota tim tahu bagaimana menjalankan tugasnya masing-masing.

Jika langkah-langkah ini diterapkan, maka kamu sebagai owner atau leader tinggal memonitor jalannya bisnis dan memastikan semua pekerjaan berjalan sesuai prosedur.

Hal ini karena setiap orang sudah tahu apa yang mesti dilakukan dan bagaimana menjalankan. Inilah yang disebut dengan bisnis yang berjalan secara autopilot, guys. Hingga pada waktu timeline pekerjaan berakhir, kamu tinggal mengevaluasi pencapaiannya apakah sudah mencapai target atau belum.

Artikel ini telah tayang di www.urbanasia.com

https://www.urbanasia.com/5-langkah-agar-bisnis-berjalan-autopilot-U29998